Senin, 10 September 2012

SOFTWARE UNTUK MEMBUAT FORMULA PAKAN TERNAK RUMINANSIA

Dalam usaha peternakan ternak ruminansia faktor
pakan memegang peranan yang sangat penting dalam
keberhasilan usaha peternakan karena menyangkut
produksi dan biaya produksi yang dikeluarkan.
Penyusunan formula pakan ternak ruminansia
merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam
suatu usaha peternakan ternak ruminansia. Kegiatan ini
tidak hanya untuk mendapatkan suatu pakan yang
berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan zat makanan
tetapi juga dengan harga yang semurah mungkin.
Kedua hal tersebut menjadi salah satu penentu
produktifitas ternak dan besar-kecilnya input atau biaya
pakan dalam suatu usaha peternakan, yang pada
akhirnya akan menentukan besarnya keuntungan suatu
usaha peternakan.
Kegiatan formulasi pakan bagi suatu industri
pakan ternak juga menjadi salah satu tahapan yang
penting dan strategis. Formula pakan yang yang telah
dibuat dapat memberikan informasi tentang kandungan
zat makanan dan harga pakan yang akan diproduksi. Di
samping itu formula tersebut juga menjadi pedoman
dalam proses pencampuran pakan untuk
membuat/memproduksi pakan. Ketersediaan bahan
pakan penyusun pakan sangat bervariasi dalam hal
jenis, jumlah, kualitas dan waktu ketersediaannya, oleh
karena itu maka kegiatan penyusunan formula pakan
dilaksanakan sesuai dengan kondisi bahan pakan yang
tersedia pada saat itu, agar selalu dapat diperoleh pakan
yang seimbang dan murah.

Langkah-langkah dalam penyusunan pakan
adalah 1) Mengetahui kebutuhan zat makanan dari
jenis, fase produksi dan berat badan ternak ruminansia,
2) Menentukan penyusunan berdasarkan bahan kering
atau bahan segar, 3) Bahan pakan yang tersedia
dilapangan saat itu, 4) Kandungan zat makanan
masing-masing bahan pakan, 5) Harga bahan pakan, 6)
Kuantitas pakan yang akan disusun dan 6) Penyusunan
pakan.
 
Dalam software RuFF edisi ini dikhususkan untuk
formulasi pakan ternak rumuninansia jenis potong.

Sabtu, 21 Januari 2012

FERMENTASI JERAMI UNTUK PAKAN TERNAK

Diadopsi oleh Drh. M. Fakhrul Ulum dari Lembar Informasi Pertanian (Liptan), BPTP Yogyakarta

Deskripsi
Jerami padi merupakan limbah tanaman pertanian yang sangat potensial sebagai pakan hijauan terutama di daerah kering seperti Kabupaten Gunung Kidul. Pada penghujan, jerami padi diberikan dalam jumlah sedikit. sedangkan pada musim kemarau pada umumnya peternak memberikan jerami padi sebagai hijauan tunggal. Jerami padi mengandung sedikit protein, lemak dan pati serta serat kasar yang relatif tinggi karena lignin dan silikanya tinggi. Untuk meningkatkan kecernaan jerami padi dan jumlah konsumsinya, jerami padi perlu diberi perlakuan secara biologis dengan menggunakan probiotik. Probiotik merupakan produk bioteknologi yang mengandung polimikroorganisme, lignolitik, proteolitik, amilolitik, sellulolitik, lipolitik dan nitrogen non simbiotik yang dapal memfermentasi jerami sehingga dapat meningkatkan kualitas dan nilai kecernaannya.

Bahan
1. Jerami padi 1 ton
2. tetes tebu Probiotik 6 kg
3. Urea 6 kg

Alat
Pengaduk, Cangkul

Cara Pembuatan
1. Tumpuk jerami dengan ketebalan sekitar 30 cm dan taburkan campuran serbuk probiotik dan 
urea secara merata pada tumpukan jerami tersebut.
2. Siramkan air diatas tumpukan jerami secara merata untuk mempertahankan kadar air jerami sebesar 60 %.
3. Pada saat penyemprotan / penyiraman dapat pula ditambahkan molases/tetes tcbu ke dalam air sebagai bahan makanan mikroba dalam probiotik.
4. Ulangi proses 1 sampai dengan 3 hingga beberapa lapisan.
5. Biarkan tumpukan jerami selama 21 hari pada tempat yang teduh (terhindar dari sinar 
matahari dan air hujan).
6. Setelah 21 hari bongkar tumpukan dan jemur dengan simar matahari sehingga kadar air diperkirakan mencapai 15 %.
7. Setelah kering dapat ditumpuk kembali dan simpan ditempat yang teduh.
8. Jerami siap untuk diberikan pada ternak.

TEKNOLOGI PAKAN DALAM PENGGEMUKAN SAPI SECARA INTENSIF

Oleh: Indarto Adi Prasetyo

Pakan yang baik untuk sapi adalah yang dapat memenuhi kebutuhan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Protein berfungsi untuk mengganti sel-sel yang telah rusak, membentuk sel-sel tubuh baru dan sumber energi. Karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi dan pembentukan lemak tubuh. Lemak berfungsi untuk pembawa vitamin A,D,E,K dan juga sebagai sumber energi. Pada sapi yang digemukkan secara setengah intensif ( kereman ) dan full intensif ( dry lot fattening ) lapisan lemak dapat menyelimuti serabut otot sehingga tekstur daging otot menjadi lembut ( kualitas terbaik ).Mineral diperlukan untuk pembentukan jaringan tulang dan urat serta mempermudah proses pencernaan dan penyerapan zat-zat makanan.. Vitamin berfungsi untuk mempertahankan kekuatan tubuh dan kondisi kesehatan.

Dalam hal ketersediaan pakan di pedesaan, jerami adalah sumber pakan yang paling banyak di jumpai, sehingga fokus kita adalah pada jerami tersebut. Akan tetapi jerami adalah sumber pakan yang berkualitas rendah, ini dapat dilihat kandungan yang terdapat didalamnya yaitu protein 4,5 – 5,5 % – lemak 1,4 – 1,7% – serat kasar 31,5 – 46,5 % – Daya cerna 30 % ( seandainya makan 10 kg jerami maka yang diserap hanya 3 kg lainnya menjadi kotoran ), bandingkan dengan rumput gajah dimana protein 8,4 –11,4 % – lemak 1,7 – 1,9 % – serat kasar 29,5 – 33 % – daya cerna 52 %, dari perbandingan tersebut terlihat bahwa jerami terlalu kasar dan sangat sulit dicerna disamping kandungan protein dan lemak yang sedikit. Untuk meningkatkan mutu dari jerami maka diperlukan perlakuan khusus, berikut beberapa cara untuk meningkatkan mutu jerami :



1. Jerami padi dicampur dengan urea + starbio Jerami yang akan dicampur harus ditimbang terlebih dulu.Jerami bisa dalam keadaan kering ataupun basah ( segar ). Untuk jerami kering, urea yang digunakan harus dilarutkan kedalam air terlebih dulu, setiap 100 kg jerami kering dibutuhkan 100 liter air sebagai pelarut urea.Sedang untuk jerami segar, urea tak perlu dilarutkan kedalam air.Bila jerami segar yang dipilih maka setiap 100 kg jerami di butuhkan 10 kg urea + 10 kg starbio untuk ditaburkan diatasnya( dengan kata lain 1 kg jerami dengan 1 ons urea + 1 ons starbio ).Cara mencampurnya yaitu jerami di buat berlapis-lapis, setiap lapisan tebalnya 10 cm, setelah lapisan pertama ditebarkan lalu di tumpuki lapisan kedua begitu seterusnya, kemudian tutup tumpukan tersebut dengan plastik agar terjadi fermentasi, hindarkan dari terik sinar matahari dan hujan. Tunggu 21 hari untuk diberikan hewan ternak. Pencampuran ini dimaksudkan untuk menghancurkan ikatan silika dan lignin pada selulosa jerami, sehingga mudah dicerna dan kaya akan nitrogen, tingkat daya cerna jerami dapat meningkat dari 30 % menjadi 52 %.

2. Jerami Padi kering dengan tetes. Jerami padi olahan ini dibuat dengan cara difermentasikan selama 24 jam, yaitu jerami dipotong-potong, kemudian dicampur air dan tetes dengan perbandingan 2 : 1. Untuk setiap 10 kg jerami kering dibutuhkan tetes 1,5 kg dan air 3 kg ( 3 liter ), ditambah super phospat25 gram ( 1 sendok makan ) dan amonium sulfat 25 gram juga, tunggu 24 jam baru diberikan pada sapi.

3. Jerami padi kering dengan larutan NaOH

Olahan jerami padi kering dilakukan dengan cara jerami dicuci dengan NaOH. Jerami padi sebanyak 1 kg disiram secara merata dengan larutan NaOH 30 gram + air 1 liter, kemudian selelah disiram tunggu minimal 6 jam agar silika hancur. Menurut Ditjen peternakan bahwa seekor sapi bisa diberikan jerami olahan ini sebanyak 5 kg + hijauan segar 5 kg + 5 gr mineral campuran yang bisa dibeli di toko dan garam dapur dua sendok makan.



Setelah mengetahui tata cara peningkatan mutu jerami yang membuat kita tidak perlu mengarit kesana kemari , sekarang kita membahas pakan tambahan yang berfungsi sebagai pemercepat pertambahan bobot sapi. Pakan tambahan ini adalah syarat mutlak dalam penggemukan sapi secara intensif. Berikut beberapa sumber pakan tambahan yang dapat di jumpai di kebanyakan daerah, serta kandungan yang terdapat di dalamnya.

Tabel 1



Nama Pakan
Protein %
( dalam 100 kg )
Lemak %
( dalam 100 kg )
TDN *
( dalam 100 kg )
Bahan Kering
Dedak Halus
14 %
3,32 %
87,6 %
86 %
Dedak kasar
9,9 %
2,10 %
56,3 %
84 %
Tepung Jagung
9,38 %
5,6 %
81,84 %
84,98 %
Gamblong
2,83 %
0,676 %
77,25 %
35 %
Ampas tahu
25,4 %
5,4 %
76,6 %
10,8 %
Kacang Kedele
48 %
3, 65 %
84,3%
87 %
Tepung Ikan
54,3 %
2,86 %
68,8 %
89 %

* TDN singkatan dari Total Digestible Nutrient, adalah jumlah persentase zat-zat makanan yang dapat dicerna.Perhitungannya berdasarkan penjumlahan persentase dapat dicerna dari protein, serat kasar, BETN (Bahan Ekstrak Tiada Nitrogen ), serta ekstrak eter dengan konstanta 2,5.

Untuk lebih lengkapnya lihat Lampiran – Halaman paling belakang

Perlu di ketahui bahwa sapi mempunyai kemampuan mengkonsumsi pakan berdasarkan bobot, semakin berat bobot maka semakin banyak kemampuan makannya, berikut perkiraan kemampuan sapi dalam mengkonsumsi pakan :

Tabel 2

Bobot
( kg )
Kemampuan Mengonsumsi Pakan
( % dari bobot badan )
100 – 150
3,5
150 – 200
4
200 – 250
3,5
250 – 300
3
300 – 350
2,8
350 – 400
2,6
400 – 450
2,4
450 – 500
2

Perkiraan diatas berdasarkan pakan dengan kandungan kering. Contoh perhitungan bila kita mempunyai sapi bakalan yang siap digemukkan berbobot 400 kg maka konsumsi bahan keringnya adalah 400 x 2,4 % = 9,6 kg, dari kebutuhan ini kita bagi menjadi dua bagian yaitu 40 % pakan tambahan dan 60 % jerami atau rumput gajah, perbandingan ini sangat pas untuk penggemukan secara intensif. Jadi untuk jerami di butuhkan 60 % x 9,6 = 5, 76 kg sisanya yaitu 3,84 kg berupa pakan tambahan seperti dedak, tepung jagung, gamblong atau yang lain tergantung yang mana yang mudah didapatkan didaerah masing-masing. Berikut 2 jenis makanan pokok ( makanan kasar ) yang merupakan sumber serat kasar bagi sapi yang umumnya di jumpai di daerah.



Tabel 3

Nama Pakan
Protein
Lemak
TDN
Bahan Kering
Jerami
4,5 %
1,4 %
30 %
86 %
Rumput Gajah
8,7 %
2,01 %
49,2 %
23,8 %

Jadi sekarang bisa kita hitung angka riil yang dibutuhkah sapi yang berbobot 400 kg tersebut di atas. Sudah didapat dari perhitungan bahwa jerami kering yang dibutuhkan adalah 5,76 kg berarti kalo kita mengambil jerami pada umumnya dengan bahan kering 86 % perhitungannya riil sebagai berikut :

5,76 kg x 100 / 86 = 6,7 kg dan bila pakan tambahan yang di berikan hanya dedak kasar maka didapat 3,84 x 100 / 84 = 4, 57 kg. Jadi jelas sekarang untuk sapi bobot 400 kg di butuhkan jerami sawah atau hasil olahan seberat 6,7 kg timbangan dan dedak 4,6 kg timbangan ( pembulatan ).


PENYUSUNAN PAKAN TAMBAHAN YANG LENGKAP
Pakan tambahan seyogyanya tidak dedak saja, melainkan kombinasi dari berbagai jenis, untuk itu sebelumnya kita ketahui terlebih dulu kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk penggemukan.Berikut tabel kebutuhan nutrisi sapi jantan dalam berbagai kelompok umur :

Tabel 4

BERAT SAPI
( KG )
% SERAT KASAR
% PROTEIN
% TDN
200
15
13
86
250
20
11,4
80
300
23
10,4
80
350
25
10
80
400
25
9,5
77
450
35
9
75
600
28
8
70
800
20
7
60

* Berdasarkan berat kering.


Sekarang kita coba menyusun ransum makanan sapi dengan maksimal pertambahan berat badan yaitu 1 kg keatas berdasarkan tabel 1 – 4. Kita susun ransum sapi dengan bobot 400 kg. Telah disinggung pada halaman sebelumnya bahwa untuk penggemukan secara intensif komposisi hijauan ( makanan kasar / serat kasar ) dengan konsentrat sebagai pakan tambahan dengan perbandingan 60 % : 40 %.Sedang sumber makanan yang tersedia adalah sebagai berikut :

- Jerami (sebagai pengganti hijauan sumber serat kasar krn mudah didapat dan murah)

- dedak halus

- dedak kasar pakan tambahan

- gamblong / ampas ketela

- tepung jagung

Sapi dengan berat 400 kg membutuhkan makanan dalam berat kering sebesar 400 kg x 2,6 % (tabel 2) = 10,4 kg

Sekarang kita tentukan dulu serat kasar yang di butuhkan yaitu bersumber dari jerami. Karena kita sudah tentukan perbandingan 60 % untuk sumber serat kasar, maka jerami dengan kadar kering 86 % ( tabel 3 ) diperoleh :

( 10,4 kg x 60 % ) : 86 % = 7,26 kg sedangkan sisanya untuk pakan tambahan 10,4 – 7,26 = 3,14 kg

Untuk menyusun pakan tambahan ini diperlukan prioritas pencapaian target protein saja, sedang TDN hanya sebagai perbandingan. Karena penyusunan pakan tambahan yang terdiri dari 4 komponen atau bahan begitu sulit maka kita minta bantuan program untuk melakukan perhitungan, program yang sederhana kita buat memakai microsoft excel, kami sebut dengan Ransum, sehingga didapatkan masing-masing komponen dengan memperhatikan bahan kering seperti tabel 1 didapat angka riil sbb :

Dedak halus : 1,5 kg x 100 /86 = 1,16 kg

Dedak kasar : 0,3 kg x 100/84 = 0,78 kg

Gamblong : 0,75 kg x 100/35 = 2,14 kg

Tep. Jagung : 0,6 kg x 100/84,98 = 0,7 kg



Sekarang Anda sudah mampu menyusun ransum dengan tepat-akurat, selanjutnya perlu mengetahui juga bahan-bahan tambahan yang mampu mempercepat pertumbuhan badan hewan ternak yang banyak dijual di pasaran. Kelebihan bahan-bahan tersebut adalah mampu mengefisienkan penyerapan makanan oleh ternak sehingga dapat mengurangi kebutuhan makanan yang telah kita hitung berdasar perhitungan teori, namun mampu menambah berat badan harian secara maksimal.Berikut bahan-bahan tersebut :


1. Bossdext

Merupakan suplemen ekstra berbentuk cair, formula ini terdiri dari enzim ekstrak tumbuhan pilihan dan bahan lain yang bermanfaat untuk meningkatkan proses pencernaan sapi, serta mengoptimalkan penyerapan dan efisiensi penggunaan pakan.Enzim yang terdapat dalam Bossdext ( boss = sapi,dext = air ) terdiri dari single cell protein bactery dan pemberiannya melalui oral dengan dicampur dan difermentasi lebih dulu dengan pakan tambahan sapi ( comboran ). Formula bossdext mengandung 32 enzim , 27 % substrat ( bionutrisi M.O ), 8 % chellate, 7 % garam elektrolit, 8 % vitamin, 7% ekstrak tambahan dan 11 % pelarut. Enzim adalah molekul protein yang berfungsi sebagai katalisator dalam reaksi biokimia yang diselenggarakan lewat aktivitas jasad renik. Sebagai katalisator, enzim dalam bossdext memungkinkan reaksi penguraian serat kasar di dalam rumen berlangsung lebih cepat.Selain itu, enzim ini juga mendukung aktivitas kerja mikroba rumen. Sedangkan chellate,vitamin dan garam elektrolit akan menjaga keseimbangan dalam proses metabolisme. Menurut penemunya yaitu HM Setio Hadi, penggemukan sapi dengan penggunaan Bossdext dapat meningkatkan bobot sapi 1,5 – 3,0 kg / hr bahkan ada yang mampu mencapai 4 kg /hr, asal bakalan sapi mempunyai genetik baik. Bagaimana cara membuat Bossdext perlu diketahui pula oleh kita, berikut caranya :

Bossdext yang diambil dari kemasan / botol tidak dapat diberikan langsung kepada sapi, melainkan harus dikultur terlebih dulu dengan melarutkannya kedalam air bersih, bebas kaporit dan antiseptik dan ber pH antara 6,8 – 7,2. Sumber yang terbaik adalah air tanah. Wadah untuk mengultur berupa bejana dari plastik atau tanah liat. Selama dalam proses pengulturan ini dilakukan pemberian aerasi secara terus menerus dengan aerator. Proses pembuatan kultur di lakukan ditempat teduh / tidak terkena sinar matahari secara langsung. Wadah tempat kultur dari plastik PVC dantidak berwarna hitam karena akan menghambat masuknya sinar tidak langsung matahari yang membantu kerja bakteri pengurai. Berikut pembuatan kultur Bossdext :

1. Sediakan 3 ember plastik PVC bersih yang tidak berwarna hitam untuk seekor sapi.

2. Isi ember pertama dengan 5 liter air

3. Kocok isi botol bossdext, lalu ambil 30 mL ( dua tutup botol ) cairan bossdext dan masukkan cairan tersebut kedalam ember pertama yang telah terisi 5 liter air.

4. Beri aerasi selama 3 hari terus menerus dengan menggunakan aerator seperti di akuarium air hias yang banyak dijual di toko-toko ikan hias.Pemberian aerator ini akan menjamin keberhasilan pertumbuhan kultur yang aerob.

5. Pada hari berikutnya yaitu hari ke –2 lakukan hal yang sama seperti langkah nomor 2 hingga nomor 4 pada ember ke –2.

6. Pada hari berikutnya yaitu hari ke – 3 lakukan hal yang sama seperti langkah nomor 2 hingga 4 pada ember ke 3.

7. Pada hari ke-4 larutan kultur Bossdext pada ember pertama sudah dapat diberikan pada sapi. Untuk menguji keberhasilan proses pembuatan kultur ini bisa dilakukan dengan meraba dinding ember sebelah dalam yaitu terasa licin dan terdapat larutan menjendal yang berwarna bening ini berarti pembuatan kultur Bossdext telah berhasil.

8. Cuci bersih ember pertama yang telah usai dipakai lalu buat larutan kultur baru untuk tiga hari mendatang. Stu ember kultur bossdext untuk satu ekor sapi.

Kegagalan pembuatan kultur bisa disebabkan oleh beberapa hal yaitu standar baku air tidak memadai, ember tidak terbuat dari bahan PVC misal seng, belanga, ban bekas dan berwarna hitam, dosis dan prosedur salah, ruang pembuatan terlalu gelap atau terkena sinar matahari secara langsung, ember tertutup rapat, gelembung aerasi terlalu besar, ember terkontaminasi zat kimia misal sabun, deterjen, antiseptik.Sekarang kita membahas cara pemberian comboran dengan Bossdext sebagai campurannya, sebagai berikut :

1. Siapkan pakan tambahan yang telah kita bahas sebelumnya, yaitu bisa dedak saja atau kombinasi dari berbagai bahan sesuai perhitungan yang telah kita tentukan pada bagian terdahulu, sesuai dengan bobot sapi pada tabel no.2

2. Ambil separuh dari larutan kultur bossdext dan tambahkan separuh pakan tambahan untuk porsi sehari, jika pada perhitungan kita diatas menghasilkan angka 3,14 kg maka ambil 1,57 kg untuk dicampurkan dengan separuh kultur bossdext, bisa ditambahkan garam dapur tanpa yodium secukupnya.

3. Aduk rata campuran tersebut dan bila kurang encer bisa ditambah air.

4. Biarkan campuran ini 1 jam agar terjadi fermentasi

5. Sisa kultur dan pakan tambahan diperlakukan sama untuk porsi sore hari

6. Setelah comboran habis dimakan oleh sapi,beri minum sepuasnya.

7. Beri sapi pakan jerami kering setelah 1- 2 jam pemberian combor, yaitu saat sapi mulai mengeluarkan air liur.

8. lakukan pemberian pakan dengan teratur setiap hari.

Demikian tata cara pembuatan kultur dan perlakuan bossdext dengan comboran.


2. Starbio


Sama halnya dengan bossdext, starbio adalah feed suplemen yang berfungsi membantu meningkatkan daya cerna pakan dalam lambung ternak. Starbio ini terdiri dari koloni mikrobe 9 ( bakteri fakultatif ) yang berasal dari lambung ternak ruminansia dan dikemas dalam campuran tanah dan akar rumput serta daun-daun yang telah membusuk. Mikroba yang terdapat didalamnya adalah mikroba lignolitik, selulitik,proteolitik, dan fiksasi nitrogen non simbiotik. Starbio dipasarkan berupa serbuk berwarna coklat. Bagaimana cara perlakuan starbio terhadap makanan sapi bisa di baca pada bab awal. Dengan teknologi ini pertambahan berat sapi bisa 1,2 kg / hari.



3. Bioplus

Zat ini berupa serbuk yang didalamnya terdiri dari bakteri menguntungkan seperti Lactobacillus, Streptomyces sp dan cendawan fermentor lain. Bioplus dikembangkan dari limbah rumah pemotongan hewan . Isi rumen sapi yang ditampung di tempat pemotongan diseleksi dan dipelihara ( fermentasi ) dengan diberi pakan jerami. Semakin bagus pertumbuhan koloni mikrobe tersebut maka semakin bagus pengaruhnya untuk pemcernaan sapi.Mikrobe yang mempunyai kemampuan tinggi mengurai pakan berserat adalah bakteri selulitik dan protozoa selulitik. Protozoa yang berkembangbiak dalam rumen merupakan sumber protein hewani bagi sapi.Pemberiannya dicampurkan dengan pakan tambahan ( comboran ). Dimana 1 kg bioplus dapat dicampur dengan 400 kg comboran kering, dengan kata lain 2,5 kg comboran kering bioplusnya 10 g. Bioplus ini mampu meningkatkan berat harian sapi sebesar 0,68 kg.

Senin, 12 Desember 2011

TRICHURIS SP


PENDAHULUAN
Ternak sapi merupakan salah satu komoditas penghasil protein hewani yang penting, selain ternak kerbau, unggas, kambing dan domba. Peternakan sapi di Aceh dapat berkembang dengan pesat, karena didukung oleh agama dan adat sebagian besar masyarakatnya, khususnya masyarakat Aceh pemeluk agama Islam. Dari laporan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Aceh, diketahui bahwa populasi sapi Aceh dari tahun ke tahun semakin meningkat (Anonimus, 1999). Namun dalam perkembangannnya masih selalu dijumpai kendala yang salah satunya adalah aspek penyakit, selain karena managemen yang kurang memadai, salah satunya adalah penyakit cacingan atau disebut dengan endoparasit yang predileksinya di Gastor intestinal.
Jenis cacing gastrointestinal yang sering menginfeksi hewan ternak di Aceh adalah jenis cacing nematoda, pernyataan ini sesuai dengan penelitian yang dilakuakan oleh Hanafiah, dkk (2002) yang mengidentifikasi bermacam-macam cacing gastrointestinal, salah satunya adalah jenis cacing Trichuris discolor , yang berpredileksi di daerah sekum. Jika hewan terinfeksi cacing tersebut akan menyebabkan trichuriasis.
Trichuriasis adalah suatu penyakit akibat infeksi cacing Trichuris discolor. Cacing ini umumnya menginfeksi ternak muda, terutama sapi muda yang berumur maksimal 6 bulan. Trichuris Discolor mempunyai habitat pada saluran usus dan menghisap darah inangnya, dengan menggunakan semacam kait yang ditusukkan ke dalam lapisan usus sehingga usus mengalami luka. Akibat dari kegiatan ini maka sapi yang terinfeksi akan mengalami diare berdarah, anemia dan bahkan dapat menyebabkan kematian (Soulsby, 1982; Georgi dan Georgi 1990; Raepstorff dan Nansen, 1998).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan pemeriksaan feses menggunakan metode natif, ditemukanya telur trichuris sp dalam feses sapi yang diambil pada ternak sapi di lingkungan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh.
Trichuris berdasarkan klasifikasi taksonomi dalam Soulsby (1982) cacing ini termasuk dalam klasifikasi :
Filum               :  Nematoda
Kelas               Adenophorea
Ordo                Trichurida
Famili              Trichuridae
Genus              Trichuris
Spesies            :  Trichuris Ovis

Morfologi dan Siklus Hidup
Cacing Trichuris sp berparasit pada sekum (Anonimous, 2004). Cacing ini sering disebut Whipworm /cacing cambuk. Morfologinya hampir sama dengan Trichuris trichura yang menginfeksi manusia dan primata lain, namun belum ada bukti kongkret yang menyatakan bahwa kedua parasit tersebut dapat saling bertukar induk semang seperti halnya cacing Ascaris sp pada sapi dan manusia (Soulsby, 1982).    
Trichuris dapat menginfeksi beberapa jenis hewan yaitu sapi, domba, kambing, babi dan anjing. Habitat atau predileksinya adalah pada caecums. Trichuris mempunyai beberapa spesies             :
-          T. Ovis pada caecum kambing dan domba
-          T. Discolor pada caecum dari sapi
-          T. Vulvis pada anjing
-          T. Suis pada babi
-          T. Trichiura pada manusia
Morfologi                                                                                               
            Cacing ini disebut dengan cacing cambuk dengan salah satu satu ujung tebal dan ujung lainnya panjang dan tipis. Bagian anterior panjang dan tipis kira-kira dua kali bagian posterior, ujung posterior cacing jantan bergulung kedorsal dalam bentuk spiral. Vulva terletak antara batas anterior dan posterior. Cacing jantan panjangnya 30-80 mm dan betina 35 – 75 mm, telur mempunyai kulit tebal kecoklatan dengan dua sumbat dikedua ujungnya. Ukukran telur 50-80 x 21-42 u.
 
Gambar 1 : Cacing Trichuris Pada Ternak Sapi

Distribusi Geografis
T. Trichiura, Vulpis T. Dan T. Suis T. Dicolor ditemukan di seluruh dunia, tetapi yang paling lazim dalam hangat, iklim lembab. Mereka jarang atau tidak ada di kering, sangat panas, atau sangat dingin daerah.

Siklus hidup
            Penularan terjadi secara langsung melalui telur infektif (L2), telur sangat resisten, perkembangan didalam induk semang berlangsung didalam lumen usus dan massa prepaten 2-3 bulan. Cacing ini melekat pada caecum (Smith and Stevenson, 1970).


 








Gambar 2 : Telur Trichuris


Gambar 3 : Siklus Hidup Trichuris sp

Siklus hidup  cacing Trichuris sp, di mulai dari keluarnya  telur dari tubuh bersama tinja dan berkembang menjadi telur infektif dalam waktu beberapa minggu. Telur yang sudah berembrio dapat tahan beberapa bulan apabila berada di tempat yang lembab. Infeksi biasanya terjadi  secara peroral (tertelan lewat pakan dan atau air minum). Apabila tertelan, telur-telur tersebut pada sekum  akan menetas dan dalam waktu sekitar empat minggu telah menjadi cacing dewasa (Soulsby, 1982).


Gejala Klinis
            Gejala klinis trichuriosis dapat menyebabkan anoreksia, diare, lesu, lemahan, dan kematian.

Tes Diagnostik
Trichuriasis didiagnosis dengan mendeteksi telur Trichuris dalam kotoran, biasanya dengan flotasi tinja. Telur berbentuk oval, kekuningan-coklat dan tebal dengan dua busi kutub. T. vulpis telur sekitar 72-90 pM oleh 32-40 pM. T. suis telur 50-56 pM oleh 21-25 pM. Telur Trichuris dapat dikeluarkan sebentar-sebentar. Pengujian tinja atau Proktoskopi dapat membantu dalam kasus ini. Cacing Trichuris dapat ditemukan dengan nekropsi pada hewan yang telah teridentifikasi telur trichuris dengan pemeriksaan awal pada feses.

Pengobatan
Trichuriasis dapat diobati dengan anthelmintics, termasuk fenbendazole, febantel, mebendazol, dichlorvos dan butamisole. Milbemycin oxime atau kombinasi dari diethylcarbamazine dan oxibendazol (Frechette, 1973).

Pencegahan
Infeksi sulit dicegah apabila tanah terkontaminasi dengan telur Trichuris. Sanitasi di daerah lembab dapat mengurangi pencemaran  lingkungan terhadap telur Trichuris. Telur Trichuris bertahan terbaik di tempat yang lembab dan area teduh .
KESIMPILAN DAN SARAN

Kesimpulan
            Pemeriksaan pada feses sapi menunjukkan bahwa feses tersebut mengandung telur cacing Trichuris. Pada sapi tersebut teramati dengan gejala klinis kurus, anoreksia, lesu dan diare.

Saran
            Penanganan, pengobatan dan pencegahan pada kasus trichuris ini dianggap penting, selain merugikan peternak dan menurunnya kesejahteraan hewan, penyakit ini juga zoonosis, sehingga perlu penanganan yang intensif untuk membasmi penyakit ini.
 
DAFTAR PUSTAKA

Anonimus, 2010. Aceh Siap Jadi Sentra Daging Nasional

http://serambinews.com/ Aceh-Siap-Jadi-Sentra-Daging-Nasional

 

Anonimous. 2004a. Trichuris spp. http://evm.mscs.edu /courses/mic569 /docs/parasite/TRICH.HTML

Georgi, G.E. dan M.E. Georgi. 1990. Parasitology for Veterinarians. 5 th. Ed.W.B. Sounders Company.

Frechette JL, Beauregard M, Giroux AL, Clairmont D. Infection of calves by Trichuris discolor. Can Vet J. 1973;14:243–246.

Hanafiah. M, Winaruddin dan Rusli, 2002. Studi Infeksi Nematoda Gastrointestinal pada Kambing dan Domba dirumah Potong Hewan Banda Aceh. J. Sain Vet. Vol. XX No. 1, 2002.

Smith H. J and Stevenson. R. G, 1970. A Clinical Outbreak Of Trichuris Discolor Infection In Stabled Calves. CANS.- VET. JoURL, vol.11, no.5,May, 1970

Soulsby, E.J.L. 1982. Helminths, Arthropods and Protozoa of Domesticated Animals. 7 th. Ed. William and Wilkin, Bailliere Tindall, London.

Roepstorff, . dan P. Nansen. 1998. Epidemiology, Diagnosis and Control of Helminth Parasites of Swine. Food and Agriculture Organization of The United Nations. Rome.